Entitas Pagi



Entitas,

Selamat malam teman-teman, bertepat di tanggal 26 Februari 2020 sekitar jam 1.38 am jari ini mengetik untuk cerita malam ini, karena saya hanya ingin nulis saja, entahlah tulisan nya jelas atau tidak, intinya malam ini lagi ingin nulis, bukannya spontalitas itu seru ya?

Tidak ada hal lain selain mendengar hati dan memulai untuk entitas yang kita inginkan, entitas yang kita dambakan, entitas yang kita harapkan, dan entitas yang kita impikan. Artikel-artikel penuh harap, penyemangat dikala redup, hidup bukan sembarang hidup dan itu yang selalu saya tekankan. 


Lalu entitas yang sederhana bagi sebagian orang tapi bagi sebagian orang lain bermakna dan berharga, meninggalkan sebuah entitas yang berharga, yang menyelimuti kehidupan lalu, sungguh ironi mimpi yang tak bisa terbeli. Tapi hidup terus terasa, waktu terus bergerak, tak ada kata lain selain terus melangkah, memang terkadang malam selalu berisikan kerinduan, beserta ke ego-an yang membuntuti kekesalan, sungguh halu selalu membelenggu.


Entitas yang bukan kita harap terkadang menjadi pengobat yang harus disyukuri, memang bukan keinginan kita, tapi Tuhan tahu apa yang seharus nya kita temui. Tidak mengerti lagi, apa yang seharusnya dijalankan, semua rasanya seperti hilang, udah hilang saja, yang ada di kepala cuman jalankan yang ada di depan, seperti bukan yang dulu.


Tidak mudah untuk menerima yang telah terjadi, tapi... itu bodoh! bodoh banget! Ohh Tuhan, maaf kan. Memulai dengan sandiwara senyum, ingin mengatakan bahagia pada orang yang ku temui, anekdot-anekdot dibunyikan, dengan dalil tak terasa untuk diri sendiri, gapapa nanti bahagia seiring waktu.


Memori telah tersimpan serta lagu-lagu moment yang tertempel dengan kuat dikepala, tak bisa berdiam diri hanya untuk entitas yang biasa-biasa saja ada warna hebat di depan sana, akan disapa, dipeluk dan digenggam ya! menulis perjalanan baru, tema baru dengan harapan yang lebih luas dan tinggi.


Pagi,

Kalimat tidak beranotasi dengan iringan memaksa menjadi lebih, sekedar tertidur dalam pagi, terbangun dengan kedewasaan, dan tidurlah kembali lalu jendela terbuka, kicauan burung membangunkan alam.

Pembimbing hidup hilang, merasa mengantikan, tapi rasanya pahit dan binggung. Kompas yang mengantikan, bertanya untuk apa? Sekedar mendengar angin, kelembutan embun menantap ke langit, ternyata ada yang lebih sulit.


Terulang-ulang diam, akan ada makna dalam ruang pagi yang mulai sunyi, berfikir agar tubuh menjadi siap, warna selalu bersabar tanpa perlu memilih saatnya, ada akhirnya untuk menghiraukan pertanyaan, karena tidak ada daun yang tak akan coklat, kembali tertanda di kepala akan kebaikanya walau tak tahu yang mana.


Mengigatkan puing alunan jiwa, sungguh heran bila medadak lupa, dunia bertahap ketika ke lima, lantas hati berbunyi bait benci, tapi sulit namun bisa datang dari mana saja, meredup dalam do'a.


Menghias kembali, menurut rasa dengan ketabahan akan ranting pohon, terbentur dari proses, menyiasatkan rohani setiap hari. Bertemu dan air tak bersua, hanya membisu masih tidak paham akan poros kehidupan yang diambang ketidaksempurnaan.


Perjalanan sudah mulai, hal-hal yang membuat bahagia selalu dijalankan, bertemu dengan wajah baru, semangat baru yang di tularkan, mereka hebat dan berwarna, berdialog sepanjang hari yang berisikan lelucuan yang berisi. Dan ternyata ada alasan untuk mau menggubah, tapi tolak ukur yang seharusnya tak perlu di pamerkan.

0 komentar:

Post a Comment