Tan tin tan tin klakson motor ramai berbunyi di tengah kesibukan kota. Membelah panasnya matahari mencari sesuap nasi untuk di makan siang ini. Lagi-lagi langkah berhenti melihat anak kecil menjual tisu di sudut tangga penyebrangan jalan. Dia seorang anak laki-laki umurnya kisaran 10-12 tahun dengan wajah lesu dan pucat sambil menawarkan tisu. Di dalam benak terpikir " Apa ini yang dinamakan keadilan sosial ? " ketika mereka yang kita pilih untuk membenahi negeri malah korupsi, ketika mereka yang kita pilih dengan hati nurani malah mengingkari janji, ketika mereka yang kita pilih malah tidur bukannya menyuarakan aspirasi sementara rakyatnya tertatih mencari uang untuk membeli nasi.
Uang Rp.10.000 di keluarkan dari kantong membeli satu buah kotak tisu. Anak laki-laki itu tersenyum seolah ada harapan dari setiap tisu yang terjual hari ini. Setidaknya mungkin dia bisa membeli makanan untuk mengisi perut yang sudah kosong ditengah hari bolong. Melanjutkan perjalanan mencari warung nasi ah perut rasanya tidak tahan lagi. Sampai di warung nasi mulut ini langsung berkata " Mba mau makan pake nasi karo orek karo kuah, minumnya air putih anget aja oh iya jangan lupa sambel " kalimat itu sudah menjadi template ketika uang pas-pasan tapi mau makan.
Melahap nikmatnya tempe orek dengan nasi yang di guyur kuah kuning entah dari sayur apa tapi lidah ini bisa merasakan sepertinya ini kuah opor ayam, ya setidaknya bisa dapat rasa ayamnya. Piring sudah bersih air putih juga habis nampaknya perut sudah terisi dengan penuh. Merogoh saku untuk mengambil uang lah kok ilang ah sial sakunya bolong ya tuhan nasinya sudah habis rasanya mau menangis aduh gimana ini. Tiba-tiba datang seorang kakek tua menjulurkan uang utnuk membayar makanan yang dia makan dan bilang " mba saya bayar sekalian sama masnya " entah apa yang ada di benak bapa kok bisa-bisanya tau. Rasanya senang, kakek tua itu seolah malaikat yang datang untuk menenangkan pikiran dan kepanikan.
Hari ini menjadi pelajaran, ternyata benar Tuhan akan membalas segala kebaikan yang manusia lakukan. Rasa lapar menjadi saksi ternyata hidup memang tidak pasti, anak kecil dan kakek tua itu menjadi perantara pertolongan Tuhan yang di berikan hari ini.


0 komentar:
Post a Comment